Replikasi Inovasi Desa: Menyulap Lahan Kering Menjadi Mina Padi

Adanya Program Inovasi Desa (PID) yang sedang berjalan khususnya di Kabupaten Malang memberikan peluang kepada desa untuk melakukan branding dan replikasi inovasi desa. Melalui PID, desa yang memiliki inovasi akan mendapat pendampingan dalam hal capturing dan sharing pengetahuan tentang inovasi desa. Di Kecamatan Kalipare, PID yang masuk dalam kegiatan bursa inovasi desa (BID) Kabupaten Malang adalah Desa Sukowilangun. Desa Sukowilangun melalui Kelompok Tani Suka Maju menyampaikan inovasi Mina Padi di Lahan Tadah Hujan. Menyulap lahan kering menjadi area mina padi. Pasca BID terdapat 4 desa yang tetarik untuk melakukan replikasi inovasi di Desa Sukowilangun, 3 desa dari Kecamatan Turen dan 1 desa dari Kecamatan Wagir. Tujuan dari kegiatan replikasi adalah sharing pengetahuan tentang inovasi agar dapat di terapkan di desa.

Kamis 28 November 2018 Desa Sukowilangun Kecamatan Kalipare mendapat kunjungan dari Desa Sitirejo Kecamatan Wagir. Kegiatan kunjungan dilaksanakan tindaklanjut dari komitmen inovasi desa saat Bursa Inovasi Desa Kabupaten Malang. Tujuan Kegiatan replikasi adalah mempelajari inovasi di desa lain dan dapat diterapkan di desa sendiri. Kegiatan replikasi melibatkan dari unsur Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID), Karang Taruna, Perangkat Desa Sitirejo, dan Pendamping Desa Sitirejo.

Acara dimulai pukul 09.00WIB di Balai Desa Sukowilangun, diawali dengan sambutan-sambutan serta penyampaian materi tentang inovasi mina padi di lahan tadah hujan. Slimuryanto, Kepala Desa Sukowilangun, menyambut baik kunjungan dari Desa Sitirejo tersebut. Harapannya dengan adanya kegiatan replikasi dapat menyebarluaskan hasil inovasi Desa Sukowilangun. Setelah materi disampaikan, peserta digiring menuju ladang mina padi lahan tadah hujan. Sampai di lokasi, terlihat hamparan padi hijau dan keriuhan ikan dalam kolam yang sedang diberi makan. Pengunjung langsung diberikan penjelasan oleh inisiator mina padi lahan tadah hujan yaitu Wahyudi. Muncul ide mina padi berawal dari proses uji coba mandiri di area rumah, dari hasil uji coba ternyata padi dan ikan dapat hidup dan panen dengan baik.

Mina Padi di Desa Sukowilangun berbeda dengan mina padi pada umumnya. Perbedaannya kalau mina padi pada umumnya, padi dan ikan menjadi satu dalam satu lahan sedangkan di Desa Sukowilangun kolam ikan dan lahan padi dibuat terpisah. Menggunakan media plastik sebagai alas lahan padi dan terpal untuk kolam ikan. Sirkulasi air di area lahan dan kolam menggunakan pipa dan pompa air kecil. Wahyudi menyampaikan dengan metode ini, menghemat air dan penggunaan air dapat dikendalikan dengan mudah. Penggunaan pupuk juga dapat di kendalikan sehingga ikan tidak terganggu. Panen ikan menjadi maksimal karena mendapat asupan makanan dari sirkulasi air lahan padi. Selain itu, dengan modal yang murah panen mendapatkan dua hasil padi dan ikan. Menggunakan metode mina padi di lahan tadah hujan, panen padi dan ikan dapat dilakukan 1 tahun 3-4 kali panen. Dibandingkan dengan lahan kering yang hanya mengandalkan musim hujan hanya dapat 1 kali panen dalam 1 tahun.

Kegiatan pengembangan mina padi di lahan tadah hujan mendapat dukungan dari pemerintahan Desa Sukowilangun melalui dana desa tahun anggaran 2018. Kini, Wahyudi bersama kelompok tani Suka Maju terus mengembangkan area lahan nganggur untuk dijadikan mina padi di lahan tadah hujan. Menggunakan metode ini dapat menghidupkan ekonomi desa. Pesanan untuk pembuatan media tanam mina di lahan tadah hujan pun terus berdatangan dari warga Desa Sukowilangun.

Subscribe to receive free email updates: